luhanay blog Follow Dash Owner

Tampilkan postingan dengan label Yaadong nc17. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yaadong nc17. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Desember 2013

Cerpen Yadong nc17 Chapter 3



Tittle            : Pengantin Baru
Genre          : Romantic, Yadong nc-17
Author          : Cifcif Rakayzi
Cast            : Nicho, Rishy



Chapter 3
Dengan cuaca yang hujan seperti ini, tidak banyak yang bisa mereka lakukan. Selain hanya diam dikamar, dan menonton tv.
“Kenapa Ayah dan Ibu memilihkan tempat yang seperti ini, disini hujan terus seperti ini. Tidak bisa senang-senang!” Rishy cemberut sambil terus memijit remote tv yang chanelnya terus ia ganti-ganti. Nicho hanya tersenyum melihat Rishy seperti itu, dan dia selesai membuat teh hangat dan langsung membawanya. “Ini, minumlah untuk menghangatkan badanmu!”, Nicho memberikan gelas teh itu.
“Apa yang bisa kita lakukan disini?”, sambil menegug tehnya Rishy memandang kearah Nicho yang juga sedang meneguk kopinya. “Kalau kau mau pergi, kita lebih baik hujan-hujanan. Aku siap mengantarmu pergi kemanapunkau mau!”. Nicho tersenyum, menaruh kopinya dimeja dan menatap serius Rishy. “Tidak usah, malas sekali kalau basah. Kita disini saja ...”, Rishy juga menaruh tehnya dimeja dan mendekati Nicho.
“Kalau begitu berhentilah cemberut seperti itu, kau begitu membuatku ..” Rishy memotong perkataan Nicho dan memajukan wajahnya sampai tepat dihadapan wajah Nicho. “Aku membuatmu apa?”, Rishy tersenyum kecil dan membelai pipi Nicho. “Kau .. kau mem .. hei apa yang kau lakukan?”, Nicho menjauh.
“Memangnya aku melakukan apa?”, Rishy kembali mendekati Nicho. “Beerhentilah memandangku seperti itu dan jangan membelai pipiku, membuatku geli!”, Nicho memegang tangan kanan Rishy yang menempel dipipinya. “Kenapa?”, Rishy menatap Nicho. “Kau menggoda juniorku ...”          “Benarkah begitu?”, Rishy merayu Nicho sampai Nicho mulai mundur menghindari Rishy.
“Aku mencintaimu ...”, Nicho berhenti mundur menghindar dan tersenyum manis dihadapan Rishy. “Aku juga mencintaimu, walaupun kau kasar jelek dan bodoh! Haha...”, Rishy membalas senyuman Nicho. “Hei kau mengataiku?”, Nicho merubah senyumannya dengan tatapan marah.
“Haha ... betapa lucunya dirimu, lihat ada sisa kopi dibibirmu dari tadi. Kau dasar pria bodoh .. haha ..”, Rishy mendekati Nicho. “Hei kau mengataiku bodoh dua kali, kesini kau aku harus menghukummu!”, Nicho menarik badan Rishy sampai menempel dengan badannya.
“Biar aku bersihkan ...”, Rishy tersenyum kecil manis, lalu dengan lembut menempelkan bibirnya pada bibir Nicho. Perlahan melumat bibir Nicho, membersihkan sisa kopi yang ada dibibir atasnya sedari tadi. Nicho membuka mulutnya dan memainkan lidahnya untuk beradu dengan lidah Rishy, Rishy juga membalas permainan Nicho dan mendekapnya erat seolah untuk memperdalam ciumannya.
***
Rishy membuka matanya perlahan saat diarasakan sinar matahari membuat matanya silau, dia melihat Nicho tidak ada disampingnya. Dengan kaget, Rishy langsung bangun dan mencarinya ke semua sudut ruangan. Seolah tidak ingin Nicho meninggalkannya.
“Nicho ... Nicho kau dimana?”, Rishy berjalan ke sana kemari dan berhenti di depan pintu kamar mandi. Perlahan dia membuka pintunya, dan yang dilihatnya adalah tubuh seorang pria kekar yang sedang dibasahi air.
Rishy langsung menyadari keadaannya, dan memalingkan wajahnya kaget. Seakan mengetahui kedatangan Rishy, Nicho menoleh dan sedikit berjalan menghampirinya. “Sayang, kau sudah bangun!”, sapanya lembut.
“Maaf, aku tidak seharusnya melihat ini. Tadi aku mencarimu, kupikir kau pergi meninggalkanku!”, Rishy menarik pintu hendak menutupnya kembali. Dengan cepat, Nicho menghalangi pintu itu. “Tidak apa-apa, kemarilah! Kau juga harus mandi, karena semalam tubuhmu itu penuh dengan keringat ... Kau ingat? Sampai membuat tubuhku juga basah, ayolah kemari!”, Nicho menarik tangan Rishy dengan tangannya yang penuh sabun memasuki kamar mandi, lalu menutup pintunya.
“Apa yang kau lakukan, aku tidak mau mandi berdua denganmu!”, Rishy menjauh dari tubuh Nicho yang mulai mendekat dan membasahi piyama nya. “Kenapa? Aku kan suamimu, yang semalam menidurimu haha ...”, Nicho tertawa dan membasuh tangannya yang penuh busa sabun itu dengan tetesan keras air yang masih keluar dari shower.
“Tidak mau, aku akan mandi nanti!”, Rishy melangkah menjauhi Nicho. “Mandi setelah aku akan membuang waktu, sayang. Apa kau lupa sekarang kita harus kebandara untuk pulang, dan sekitar dua jam lagi pesawatnya berangkat!”, Nicho yang masih membasuh tangannya menatap Rishy yang sudah membelakanginya.
“Apa? Benarkah? Kenapa kau baru bicara sekarang, ahh kenapa aku bisa lupa dan bangun sesiang ini!”, Rishy mendekati Nicho. “Kau kelelahan sayang, semalam kita melakukannya sangat bersemangat. Bahkan dinginnya ac masih membuatmu berkeringat, kau hebat sekali!”, Nicho tersenyum memuji seperti anak kecil. “Ikh dasar kau ini menyebalkan, jangan bicara seperti itu. Lalu kenapa kau tidak membangunkanku?”, Rishy memukul dada Nicho.
“Aku tidak tega melihatmu begiu pulas, kau mungkin sangat cape!”, Nicho memegang kedua tangan Rishy yang memukulnya, menghentikan pukulannya. “Lalu bagaimana kita bisa bersiap dalam dua jam?”, Rishy melepaskan tangan Nicho dari tangannya.
“Kalau begitu, kita pulang besik. Memesan tiket pesawat yang baru!”    “Ish, tidak bisa. Aku mau pulang sekarang! Aku sudah bosan dengan tempat yang selalu hujan seperti ini, baiklah ayo cepat kau bersihkan sabun-sabun itu dari badanmu! Kita harus bergegas ...”, Rishy langsung membuka cepat piyama nya dan melemparnya asal, lalu berdiri dekat dengan Nicho yang tersenyum melihat istrinya full naked untuk mendapatkan guyuran air dari shower nya.
***
Satu bulan setelah pernikahan mereka berlalu.
“Sayang, akhir bulan ini kau mau jalan-jalan kemana?”                             “Akhir bulan? Memangnya sekarang tanggal berapa?”, Rishy menatap Nicho sekilas lalu melihat kalender yang tergantung di dinding ruang makannya. “Sekarang tanggal 27, kenapa?”, Nicho menatap serius Rishy. “27? Kenapa rasanya aku belum juga ... uwo..uwo..”, tiba-tiba ditengah perkataannya Rishy muntah dan dia langsung berlari kekamar mandi.
“Sayang, kenapa denganmu? Kau sakit?”, Nicho menempelkan punggung tangannya di dahi Rishy yang keluar dari kamar mandi. “Akhir-akhir ini aku memang sering pusing dan selalu mual ...”, jawabnya lemas dan memeluk Nicho.
“Kalau begitu kita kedokter sekarang!”, Nicho melepas pelukannya dan menatap Rishy. “Tidak usah, mungkin Cuma masuk angin!”, Rishy memegang tangan Nicho dan kembali menyandarkan kepalanya didada Nicho.
“Bukan masuk angin, mungkin hamil barang kali ...”, Ibu tiba-tiba datang dan tersenyum melihat mereka. “Hamil?”, Rishy dan Nicho menjawab bersamaan lalu saling bertatapan. “Iya hamil, ini sudah sebulan kalian menikah kan?”, Ibu menambahkan lagi.
“Aku memang sudah telat 3 minggu, tapi mungkinkah?”, Rishy memegang perutnya dan menatap Nicho. “Semoga saja kau benar hamil, berarti pekerjaan kita tidak sia-sia selama ini ...”, Nicho tersenyum bahagia dan langsung memeluk Rishy.
Rishy memukul dada Nicho karena malu dengan Ibunya atas yang dikatakan Nicho, “Aku ..uwo..uwo ... ahh uwo..uwo...” Rishy langsung berlari lagi kekamar mandi sambil menutupi mulutnya, Ibu langsung mengikutinya sementara Nicho masih tersenyum bahagia memikirkannya.
The End ,-
 

Cerpen Yadong nc17 Chapter 2


Tittle            : Pengantin Baru
Genre          : Romantic, Yadong nc-17
Author          : Cifcif Rakayzi
Cast            : Nicho, Rishy
 

Chapter 2
“Ahhh ... Rasanya pinggangku lebih baik patah daripada sakit seperti ini!”, saat membuka pintu kamar hotelnya Nicho langsung berlari dan berbaring diranjang. “Bereskan dulu tasmu, baru tidur!”, Rishy menarik tangan Nicho untuk mengangkat kopernya yang berat. “Kau ini jahat sekali, pinggangku sakit karenamu. Selama perjalanan aku menahanmu tidur dipundakku, apa kau ini tidak kasihan padaku?”, Nicho bangun dan mendekati Rishy.
“Lalu kenapa kau membiarkanku tidur dipundakmu? Aku tidak menyuruhmu untuk menahanku tidur, itu salahmu sendiri!”, Rishy membuka jaketnya dan berjalan membuka gordeng jendela. “Kau ini benar-benar ... ish .. menjengkelkan saja!”, Nicho mendekatinya.
“Apa?”, Rishy mendekati Nicho dan mengangkat wajahnya. “Kau sekarang sudah menjadi nyonya Nicho, jadi jangan bersikap kasar seperti itu. Harusnya kau bersikap lembut dan mempesona, nyonya Nicho!”, dia berjalan menjauh dari Rishy. “Memangnya aku tidak mempesona sekarang?”, Rishy berjalan mendekati Nicho dan membuatnya berjalan mundur menahan Rishy yang terus mendekat.
Rishy menjatuhkan Nicho diranjang, Nicho hanya diam menatapnya saja. “Justru aku sangat mempesona, saking mempesonanya sampai bisa membuat Nicho hanya berbaring diam diranjang sekarang!”, Rishy mentertawakan raut wajah Nicho sekarang yang terlihat lucu melihatnya.
“Owh jadi sekarang kau mau main kasar denganku ya, baiklah akan aku buktikan siapa yang lebih kasar disini sekarang?”, Nicho menarik Rishy sampai terjatuh tepat diatas badannya. “Lepaskan aku!”, Rishy melepaskan tangan Nicho yang memegang pinggangnya.
“Diamlah, jangan seperti itu. Kau menekan juniorku!”, Nicho langsung melepaskan Rishy dan memegang juniornya. “Apa? Apa yang kau lakukan!”, Rishy melihat yang dilakukan Nicho sementara dia sendiri masih berada diatas badannya. “Entahlah ... Tapi sepertinya dia sudah siap!”, Nicho tersenyum menatap Rishy. “Siap apa?”, Rishy balas menatapnya.
“Siap untuk membuktikan siapa yang paling kasar, ayolah!”, Nicho menariknya lagi dan membalikan posisi mereka sehingga Nicho diatas sekarang, lalu menarik selimut dan menutupi badan mereka.
“Kyaaa ... Nicho! Aku tidak mauuuu!”, Rishy bangun dan membuka selimutnya. “Tidak usah berpura-pura seperti itu!”, Nicho menarik lagi Rishy dan menarik selimutnya lagi. Rishy bangun lagi dan membuka selimutnya lagi, Nicho tersenyum dan menariknya lagi. Kali ini Nicho membiarkan selimutnya, tidak menariknya untuk menutupi badan mereka.
Nicho mulai menciumi Rishy, membiarkan lidah mereka bertemu. Rishy juga akhirnya membalas ciuman itu, lalu lidah mereka bermain. Perlahan Nicho melepaskan ciuman itu dan beralih turun menciumi leher Rishy, membuat lehernya basah dengan saliva dan membuat beberapa kissmark.
Lalu Nicho kembali mencium bibir Rishy, dengan penuh nafsu. Sementara tangan kanannya menahan Rishy dan tangan kirinya menggerayami dada Rishy, mencari kancing baju dan perlahan mulai membukanya.
Dengan apa yang dilakukan Nicho, Rishy juga tidak hanya diam. Dia juga menggerayam dan mulai mebuka kancing kemeja Nicho, membuat bagian depan tubuh mereka bersentuhan langsung. “Tunggu!”, Nicho tiba-tiba menghentikan ciumannya. “Apa?”, Rishy melihat wajahnya yang sedikit tersenyum evil.
“Apa-apaan ini, kenapa bisa seperti ini. Kenapa kita berdua memakai kemeja?”, Nicho melihat kemejanya yang sudah terbuka dan melepaskannya. “Memang kenapa?”, Rishy menarik selimut dan menutupi badannya. “Kemeja berkancing didepan, dan rupanya semua ini adalah kesempatan! Haha ..”, Nicho tersenyum lalu menarik selimut itu dan menutupi mereka berdua.
***
Berlama-lama kemudian saat mereka seperti itu, sekarang sudah pagi tapi tepatnya masih dinihari dan hujan. Baju mereka berserakan di sembarang tempat, dan ranjang yang berantakkan.
Rishy terbangun dan melihat disampingnya Nicho sedang memainkan handphone nya. “Jam berapa ini?”, Rishy menjauhkan kaki Nicho yang menindih kakinya. “Hei sayang, kau sudah bangun. Sekarang masih jam 3, mau kemana?”, Nicho menatap istrinya lalu membelai rambutnya yang setengah menutupi wajahnya.
“Tadi Ibu menelfon ..”, Nicho menyimpan handphone nya dan mendekati Rishy. “Lalu dia bialng apa?” “Ibu bilang, kalian sudah sampai belum? Kenapa tidak telfon kerumah kalau sudah sampai? Lalu apa yang kalian lakukan sekarang?”, Nicho merangkul Rishy.
“Lalu kau menjawab apa? Aku lupa untuk menelfon nya tadi!”                   “Aku jawab kau sedang telanjang dan tidur bersamaku!”, Nicho tersenyum dan memasang wajah ulzang. “Hei benar kau bicara seperti itu?”, Rishy langsung mendorong Nicho menjauh darinya. “Kenapa memangnya?”, Nicho melihat Rishy dan beralih melihat badannya yang setengah terbuka karena selimut yang menutupinya tertarik oleh Nicho.
“Aish ... Kau melihat apa?”, Rishy langsung menarik lagi selimutnya. “Memang benarkan apa yang aku katakan, kau sedang telanjang dan tidur bersamaku. Ibu saja tidak marah, malah tertawa. Lalu kenapa kau marah?”     “Tapi kau tidak harus menjawab seperti itu juga, aku malu!”, Rishy langsung memalingkan wajahnya.
“Dasar kau ini, kenapa harus malu? Inikan sudah menjadi pekerjaan kita sekarang, apa lagi yang harus dilakukan oleh suami-istri jika bukan ...”             “Hei kau Nicho, kau ini selalu saja!”, Rishy memotong perkataannya dan memukul-mukul badannya. “Memang benarkan?”, Nicho tersenyum dan menahan pukulan Rishy padanya.
“Pikiranmu selalu saja seperti itu! Aku heran kenapa kau bisa menjadi Presdir, tapi apa kau bisa bekerja dengan otak mesum mu itu?”, Rishy menghentikan pukulannya dan diam memegangi selimutnya. “Kyaa ... Kau ini menyebalkan sekali, kau meremehkan otak pintarku ini? Tentu saja aku memisahkan antara pekerjaan dan urusan pribadi, kau ini menjengkelkan tapi membuatku semakin menyukaimu! I love you”, Nicho menarik Rishy sampai beradu dengan badananya.
“Sekarang mau apa kau? Lepaskan aku!”       “Tidak ada yang kulakukan, aku diam!”, Nicho memeluknya erat. “Sudah cukup kau membuatku tidak bisa berjalan kemarin, lalu kau mau mebuat aku semakin tidak bisa berjalan? Aku sangat lelah sekali, badanku lemas. Dan itu semua karenamu!”, Rishy mencubit pinggang Nicho sekerasnya.
“Awh sakit! Haha ... Kau ini, tidak akan apa-apa. Nanti juga kau sembuh, itu hanya sesaat. Kalau kau sakit untuk berjalan, dan tidak bisa berjalan, aku akan menggendongmu, memandikanmu, dan mencumbumu, haha ...!”, Rishy mendorong Nicho lagi, memukulnya dengan bantal. “Ish kau ini, dasar kau otak mesum!”, Rishy terus memukuli Nicho yang tertawa dengan bantal.
“Aaahhh ...”, suara petir yang menyambar tiba-tiba membuat Rishy langsung memeluk Nicho. “Haha ... Dengan petir saja kau takut, makannya kau harus diam dan jangan memukulku terus!”, Nicho memeluk Rishy dan menarik selimutnya. “Kenapa tiba-tiba ada pettir, aku takut sekali!”, Rishy menundukan kepalanya didada Nicho yang bidang.
“Lihat saja, hujannya deras sekali. Suhunya juga sangat dingin, membuat juniorku kedinginan. Ayo lebih baik kita membuat tubuh kita hangat ...”, Nicho menindih Rishy dan mengerumuni badan mereka dengan selimut.

tbc -

Cerpen Yadong nc 17 Chapter 1


Tittle            : Pengantin Baru
Genre          : Romantic, Yadong nc-17
Author          : Cifcif Rakayzi
Cast            : Nicho, Rishy

Chapter 1
Jam baru menunjukan pukul enam pagi, tapi sinar matahari yang masih lembut sudah menyelinap masuk kedalam jendela kamar mereka. Mereka yang masih lelap terpejam, pengantin baru.
Tiba-tiba suara alarm jam weker berbunyi ditengah keheningan ini, membuat suasana berbeda.
“Emm ... apa itu?”, Nicho sedikit membuka matanya, merubah posisi tidurnya dan kembali menutup matanya.
Beberapa lama kemudian Rishy juga membuka matanya, melihat tangan Nicho yang berada diperutnya. Rishy juga sekilas melihat wajah Nicho yang tidur lagi, kemudian mematikan jam itu lalu kembali melihat Nicho. Memandang wajahnya, tersenyum lalu membelai lembut pipinya.
“Ternyata wajah aslimu seperti ini, tidak lebih bagus saat kau terbangun. Tapi .. memang lebih bagus seperti ini, haha ...”, Rishy lalu mendekat, memeluk Nicho dan tidur didadanya.
“Tapi ... kenapa badannya hangat sekali? Aku jadi geli dengan keadaan seperti ini!”, Rishy menjauh dari Nicho. Tapi Nicho menahan badan Rishy agar tetap dipelukannya, “Sayang ...”.
“Astaga, kau sudah bangun?”, Rishy melihat Nicho. “Aku lelah sekali!”, Nicho membuka matanya dan tersenyum. “Apa?”, Rishy membalas senyumannya dan mengusap pipinya.
“Aku masih lelah karena semalam, apa kau tidak lelah?”, Nicho mendekati Rishy. “Kau kenapa, memangnya semalam apa?”, Rishy menutup matanya dengan tangan Nicho. “Sayang, kau rupanya hebat sekali. Tapi tidak usah malu seperti itu, kau sangat cantik!”, Nicho semakin mendekati Rishy.
“Apa?”, Rishy membuka tangan Nicho. “Pagi ini kau sangat cantik, walaupun bangun tidur tapi tetap cantik. Aku akan memberimu hadiah ...”, Nicho tersenyum. “Hadiah apa?”, Rishy memegang pipi Nicho. “Morning kiss!”, Nicho tiba-tiba langsung mencium Rishy.
***
“Kau harus membereskan semuanya ya?”, Rishy mengikat rambutnya, lalu menarik selimut untuk menutupi badannya dan berdiri dihadapan Nicho. “Kenapa harus aku yang membereskan kamar ini? Aku masih lemas, masih ingin tidur!”, Nicho memelas. “Kau pikir aku tidak lelah? Setelah apa yang kau lakukan padaku semalam, aku masih sangat lelah sekarang. Bahkan kau mambuatku susah berjalan, tapi Aku akan membuat sarapan untuk kita, jadi kau harus membereskan kamar ini. Lagipula Cuma sedikit yang harus kau bereskan!”, Rishy berjalan menuju kamar mandi dengan selimutnya. “Haha ... benarkah? Tapi kau hebat sekali tadi malam, kau membuatku kalah!”, Nicho juga berdiri lalu mengambil pakaiannya yang beserakan dimana-mana untuk menutupi badannya dan mengejar Rishy. “Kenapa kau tertawa?”, Rishy memalingkan badannya dan menatap Nicho dengan tatapan evil.
“Sayang, ayolah ...”, Nicho mendekati Rishy. “Apa?”, Rishy menjauh darinya. “Lebih baik kita lanjutkan yang semalam?”, Nicho mengejar lagi Rishy. “Tidak mau! Kau sudah cukup membuatku tidak bisa berjalan, sekarang mau lagi?”, Rishy masuk kamar mandi dan menutup pintunya sebelum Nicho masuk.
“Lalu apa harus aku juga yang mencuci darah itu?”, Nicho berteriak. “Darah?”, Rishy langsung membuka pintu kamar mandinya. “Lihat, siapa yang membuat sprei nya kotor tadi malam?”, Nicho tersenyum melihat Rishy yang sudah tidak memakai selimut untuk menutupi badannya lagi.
“Astaga! Apa kau melihatnya?”, Rishy langsung berlari dan menarik sprei itu untuk menutupi noda darahnya dan tentu saja untuk menutupi badannya. “Tentusaja, terlihat jelas di sprei putih itu!”, Nicho mendekati Rishy. “Diam, jangan mendekat!”, Rishy menahan Nicho yang berjalan kearahnya dengan tangannya. “Kenapa?”, Nicho malah tersenyum melihat tingkah Rishy.
“A .. aku .. aku ..”, Rishy mememalingkan wajahnya dan tidak berani menatap mata Nicho. “Tidak usah malu, bukankah aku yang membuatnya keluar darimu semalam? Biasa saja, tidak apa-apa! Dan maaf telah mebuatmu menangis semalam, lebih baik sekarang kita mandi, badanku jadi kotor karenamu”, Nicho menarik tangan Rishy. “Hei! Kau yang membuat badanku kotor, bukan aku!”, Rishy bangun dan berlari kekamar mandi dengan sprei itu.
“Sayang, apa kau akan mandi tanpa aku?”, Nicho mengetuk pintu kamar mandinya. “Tentu saja, memangya aku harus mandi denganmu?”, Rishy berteriak. “Lalu aku bagaimana?”, Nicho terus mengetuk pintu itu. “Tunggu sampai aku beres mandi! Bereskan dulu kamarnya!” Rishy juga mengetuk pintunya dari dalam. “Tidak mau!”, Nicho terus mengetuk pintunya semakin kencang.
Setelah beberapa lama kemudian, Rishy selesai mandi dan keluar dari kamar mandi. Dia melihat Nicho malah duduk diam diranjang, “Hei apa yang kau lakukan? Cepat bereskan kamarnya!”, Rishy menarik tangan Nicho untuk berdiri. “Aku tidak mau!”, Nicho juga menarik tangan Rishy dan memeluknya. “Atau kamu tidak akan mendapat sarapan pagi ini”, Rishy melepaskan pelukannya, tersenyum lalu pergi. “Astaga, apa yang harus aku lakukan untuk membereskannya?”, Nicho hanya berdiri saja melihat kesekeliling kamar yang berantakan, dan juga bajunya dan baju Rishy yang berserakan dimana-mana karena semalam.
***
Beberapa lama kemudian, Nicho turun kebawah dari kamarnya dan pelan-pelan berjalan kedapur. Dia melihat Rishy yang sedang memasak, Nicho tersenyum lalu mendekatinya diam-diam. Nicho lalu memeluk lembut Rishy dari belakang, “Ahh! Apa yang kau lakukan? Mengagetkan saja!” Rishy langsung melihat kebelakangnya.
“Kau serius sekali masaknya, ikat rambutmu sampai jatuh!”, Nicho berbisik setelah mencium pipi Rishy. “Apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?”, Rishy tersenyum lalu melanjutkan memasak.
“Sudah, semuanya selesai. Aku membereskan semuanya, aku juga mencuci baju-bajumu!”, Nicho mempererat pelukannya. “Nanti sarapannya sebenatar lagi selesai. Ahh .. kenapa suamiku tampan sekali setelah mandi!”, Rishy mencium pipinya. “Sebelum mandi juga aku sangat tampan! Biar aku ikat rambutmu, kalau tidak nanti rambutmu jatuh kemakanannya dan meracuni suamimu yang tampan ini!”, Nicho melepaskan pelukannya dan mengambil ikat rambut Rishy yang jatuh, lalu mengikatnya kembali.
“Sebenarnya istriku ini lebih cantik kalau rambutnya terurai, tapi karena sedang masak jadi harus diikat!”, Nicho duduk dimeja makan melihat Rishy yang hampir beres memasak. “Nah tarrraaa ... sarapannya jadi!”, Rishy membawa makanan-makanannya kemeja makan.
“Apa rasanya akan enak?”, Nicho mengambil sendok dan menatap Rishy. “Tentu saja, ayo silahkan dicoba!”, Rishy mengambil piring Nicho dan memberikan makanannya. Nicho memakannya, dia mengeluarkan senyuman, pertanda makanannya benar enak. “Bagaimana?”, Rishy menatap Nicho. “Makanannya enak sekali, kau hebat istriku! Kehebatanmu bukan hanya diranjang ternyata!”, Nicho tertawa dan melanjutkan makannya. “Aish .... Apa yang kau katakan!”, Rishy memukul tangan Nicho.
***
Sekarang mereka hanya duduk didepan tv, “Sayang, kapan kau akan masuk kerja lagi?”.           “Masuk kerja? Kenapa begitu cepat! Kita baru saja menikah, dan aku tidak mau langsung kerja. Kenapa kau bertanya seperti itu?”, Nicho langsung menatap Rishy dengan tatapan marah nya. “Jangan marah, aku hanya bertanya saja. Kenapa marah!”, Rishy memegang tangan Nicho dan mendekat padanya. “Aku ini Presdir, terserahku mau masuk kapan saja!”, Nicho memalingkan wajahnya. “Jangan marah ...”, Rishy memegang kedua tangan Nicho. “Kalau tidak mau aku marah, cium aku ayo!”, Nicho menariknya. “Hei .. Pikiranmu selalu itu, dasar otak mesum!”, melepaskan tangan Nicho dan menjauh darinya.
“Ya sudah kalau begitu aku yang akan menciummu ..”, Nicho mendekat. “Tidak mau, aku tidak mau!”, Rishy menjauh darinya. “Ayolah, kalau begitu aku akan marah!”, Nicho memasang wajah cemberut. “Biar saja, aku tidak peduli!” “Kenapa seperti itu?”, Nicho kembali mendekati Rishy. “Ish ... Apa yang kau lakukan, sudah aku bilang tidak mau!”, Rishy mengatakan tidak mau tapi tidak menghindar. “Aish .. kalau begini caranya kapan kita mau punya Baby, kalau kau tidak mau terus?”, Nicho tertawa sambil menarik tangan Rishy. “Apa katamu?”, Rishy menatapnya kaget. Nicho menarik tangannya, sampai mereka berbaring disofa dan Rishy ada diatas Nicho.
“Ish .. Kau tidak tampan lagi!”, Rishy melepaskan tangannya dari tangan Nicho dan berusaha bangun. “Tapi kau tetap cantik, aku tetap mencintaimu!”, Nicho menarik lagi Rishy, menahannya, lalu menciumnya. Memasukkan lidahnya kemulut Rishy, dan lidahnya mulai menjelajahi mulut Rishy. Bermain lincah dengan lidangnya.
“Selamat siang sayang!”, tiba-tiba terdengar suara yang sudah tidak asing lagi bagi Rishy. Tanpa melepas ciumannya Rishy membuka mata dan meliahat kearah pintu, dan dia melihat Ibunya yang berdiri didepan pintu bersama Ayah dan kedua orang tua Nicho. Mereka semua disana, berdiri meliahat keadaan Rishy dan Nicho sekarang.
“Apa yang Ibu lakukan disini?”, Rishy langsung menghentikan ciumannya dan berdiri. Dengan kagetnya, sampai membuat Nicho juga berdiri dan melihat orang tuanya berdiri didepan pintu. “Sudah aku bilangkan, mereka pasti tidak akan selugu yang kalian pikirkan. Sekarang saja lihat mereka sedang melakukannya, haha ..”, ucap Ibu Rishy pada orang tua Nicho, membuat mereka tertawa kecuali Rishy dan Nicho yang kaget melihat mereka.
“Ah pantas dari tadi kami menekan bell tidak ada yang membuka pintu, ternyata kalian sedang bekerja. Kerja yang bagus Nich, jangan mengecewakan Rishy!”, Ayah Nicho tertawa. “Tentu saja Ayah, aku akan memberikan yang terbaik untuk Rishy”, Nicho membalas perkataan Ayahnya dan ikut tertawa sambil merangkul Rishy yang terlihat masih malu. “Ayah, Ibu, kenapa kalian bisa disini?”, Rishy melepaskan tangan Nicho dari pundaknya dan mendekati mereka.
“Kami kesini hanya untuk mengunjungi kalian, lalu bagaimana dengan malam pertamanya? Lancar?”, tanya Ibunya bercanda. “Lancar, Bu. Dan tentunya sukses! Haha ...”, Nicho mendekati Rishy. “Ikh .. Apa yang kau katakan!”, Rishy mencubit nya keras, “Awh!”.         “Tidak usah malu seperti itu!”,jawab mereka menertawakan.
“Ayo duduk dulu, mau minum apa? Kalian pasti cape kan!”, Rishy membawa mereka duduk. “Ah tidak usah, kami kan bukan tamu. Nanti kami ambil sendiri!”, jawab Ibu Nicho tersenyum. “Sebenarnya kami Cuma mau mengantarkan hadiah untuk kalian”, Ibu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Apa itu?”, Nicho langsung ingin melihatnya. “Tiket pesawat ketempat bulan madu kalian”, Ibu memberiakn amplop tiketnya.
“Apa ini tidak merepotkan?”        “Sama sekali tidak, Rishy. Ini adalah hadiah untuk kalian, hadiah pernikahan kalian dari kami. Semoga kalian senang!”         “Ah kalian tahu saja, sengaja memilih tempat yang sedang dingin. Terimakasih banyak Ayah, Ibu!”, Nicho tersenyum. “Nanti disana kau harus bekerja keras, jangan mebuat Ayah malu!”         “Tentu saja Ayah, aku tidak akan mengecewakan kalian!”             “Ih apa yang kalian bicarakan dari tadi sebenarnya?”, Rishy menatap Nicho.
“Rishy, ini sudah Ibu siapkan pakaianmu untuk disana. Bukankah pakaianmu belum semuanya dibawa kesini kan?”, Ibu memberikan koper pada Rishy. “Terimakasih Bu, iya baru sedikit pakaian yang dibawa kesini!”, Rishy membawa pakaiannya.
“Tapi bukankah disana jadwal berangkat pesawatnya siang ini?”, Ibu melihat tiket itu lagi. “Iya siang ini, ayo cepat kalian harus segera siap-siap. Nanti ketinggalan pesawat!”          “Baiklah, kami siap-siap!”, Rishy membawa kopernya kekamar lalu disusul oleh Nicho yang juga kekamar.

tbc -



SUPER JUNIOR