luhanay blog Follow Dash Owner

Tampilkan postingan dengan label BTS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BTS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Maret 2014

Now, I Love U - FF BTS Park Jimin

Hallo ...
cifcif punya FF gaje, aneh dan gak seru lagi nieh. silagkahn mau baca?
tapi saran dari cifcif kalau yang tidak berminat baca ya jangan baca, daripada menyesal dikemudian hari (alah bahasanya), iya kan?
soalnya FF nya gak nyambung gitu jalan ceritanya, aneh pula. tapi untungnya jadi menjadi sebuah FF yang cifcif pos.




Author       : cifcif Rakayzi

Tittle         : “Now, I Love U”
Genre        : romance
Lenght       : Oneshoot
Cast  :
-      Park Jimin (BTS)
-      Lee Hyein (oc)
-      Hayoung (A pink)
-      Taehyung (BTS)

Hyein menyimpan sumpit dan menghentikan makannya, menatap Eomma lekat dengan cemberut.
“Eomma sudah berulang kali menanyakan hal itu, dan aku juga sudah berulang kali menjawab TIDAK untuk hal itu!”
“Ish ... Kau tidak usah berteriak seperti itu”
“Aku tidak mau dijodohkan, titik!” Hyein memukul pelan meja makan dan memalingkan wajahnya dari tatapan Eomma.
“Lalu sampai kapan kau akan hidup seperti ini, kapan kau akan menikah?”
“Aku masih belum siap menikah! Aku belum berfikir kearah itu, lagipula usiaku masih 19 tahun. Kenapa harus cepat menikah?”
“Lebih baik kau menikah dan belajar menjadi istri yang baik, dari pada seperti sekarang. Pekerjaannmu hanya bermain-main tidak jelas”
“Apa yang tidak jelas, Eomma? Aku kuliah dan menulis ..”
“Menulis apa tidak jelas seperti itu”
“Eomma jebalyo, aku tidak mau menikah!” akhirnya Hyein memasang wajah memelas pada Eomma yang kembali menyantap makan malamnya.
“Lalu kau mau apa?”
“Kalau aku harus tetap menikah, maka biarlah aku sendiri yang mencari jodohku!”
“Aigoo ... Memangnya ada pria yang mau padamu?”
“Maksud Eomma?” Hyein membulatkan matanya merasa tersindir.
“Kau hanya gadis pemalas, jorok, urakan, bahkan dengan usiamu sekarang kau masih belum bisa mengurus dirimu sendiri ..”
“Eomma!”
“Sekarang ini Eomma sudah tua, dan Appamu sudah tidak ada. Kau tidak punya siapa-siapa lagi untuk mengurusi mu lagi jika Eomma meninggal nanti, jadi siapa lagi jika bukan suamimu yang akan menjagamu. Makanya kau harus mau menikah, ara?”
“Eomma, jangan bicara seperti itu!”
“Sudahlah, habiskan makanan mu. Soal perjodohan ini biar Eomma yang urus, kau hanya tinggal duduk manis dan menunggu jodohmu datang”
“Aish jinjjayo, Eomma kau ini jahat sekali pada anak semata wayangmu”
“Ini untuk kebaikan mu sendiri nantinya, turuti saja Eomma, ne?”
“Sudahlah aku tidak mau makan!” Hyein meninggalkan meja makan dengan hentakan kaki marahnya, membuat Eomma hanya berdecak kesal dengan tingkah kekanak-kanakan Hyein.
        Hyein pov.
“Pemalas, jorok, urakan, dan tidak mengurus diri sendiri? Memangnya aku seperti itu?” aku melihat pantulan tubuhku dicermin besar yang terpampang dikamarku.
Apa yang Eomma pikirkan dengan menikahkan anak gadisnya yang masih dibawah umur? Memangnya ini masih zaman Siti Nurbayah (emang ada cerita siti nurbayah di korea? Author ngaco).
Daripada aku pusing dengan perkataan Eomma tadi tentang perjodohanku, lebih baik aku kembali menyelesaikan ceritaku.
Aku kembali memakai kaca mata besarku, mengikat rambutku asal hanya untuk menghalangi rambutku menutupi mata, dan duduk didepan laptop tercintaku.
Menulis cerita-cerita romantis untuk aku post di blog ku nanti, kenapa? Karena aku sangat suka dengan cerita dan dongeng, apalagi ber genre romantis. Aku selalu membayangkan kalau aku bisa mengalami kisah seperti didalam cerita, bertemu pangeran cinta sejatiku dan hidup bahagia selamanya. Ah so sweet.
--
        Aku membuka mataku perlahan saat dirasa ada sesuatu menyilaukan menusuk kelopak mataku, memaksaku untuk membuka mata dan melihat apa itu.
“Ommo! Lihatlah kelakuanmu, kau tidak ada bedanya dengan anak TK”
Aku lihat Eomma menggerutu melihatku dan membukakan gordeng, lalu menarikku.
“Palliwa ireona!”
“Emh .. Eomma, apa sudah siang?”
“Ini sudah jam 9, masih tanya apa sudah siang. Cepat bangun dan mandi, kau ada kuliah jam 11 nanti!”
“Eomma, badanku sakit sekali ...”
“Bagaimana tidak sakit, kau selalu tidur dilantai. Kenapa lagi kalau bukan karena jatuh dari ranjang”
“Eomma ...”
“Jangan bermalas-malasan, palliwa!” Eomma menarik tanganku sampai aku berdiri, dia membereskan selimutku lalu pergi.
Ah astaga, pinggangku sakit sekali. Apa iya aku selalu jatuh dari ranjang? Atau Eomma hanya mengada-ngada?
Dengan menggaruk kepalau rang terlihat meyeramkan karena rambutku berantakan aku berjalan menuju kamar mandi, mencoba mencari kesegaran dari kucuran air yang keluar dari shower.
--
Saat kulihat jam sudah menunjukkan pukul 10.30 aku langsung mempercepat pergerakanku. Memasukkan laptop dan buku-buku kedalam tasku asal, menyisir dan mengikat rambutku juga asal, memakai jaket dan sepatuku tanpa mengikat talinya.
Aku berlari menuruni satu per satu anak tangga dari kamarku kebawah, berjalan secepat mungkin menuju mobilku diluar.
“Kau pasti kesiangan lagi!”
“Eomma, aku pergi dulu. Dah ..”
Aku mencium pipi Eomma yang sedang menyiram tanamannya, bergegas masuk kedalam mobil dan menancap gas.
Alasannya, karena aku tidak akan sampai kekampus dengan waktu 30 menit, ditambah dengan jalanan yang macet. Mungkin.
        “Astaga!” untuk kesekian kalinya aku terlambat dan tidak diizinkan masuk kelas, terpaksa aku hanya duduk menunggu samapi pelajaran dosen itu selesai diluar.
“Again?”
Tiba-tiba suara pria dari belakang mengagetkanku, aku berbalik melihatnya dan ternyata,
“Ish Taehyung?”
“Ne, aku terlambat juga seperti mu untuk pertama kalinya. Dan kau kesekian kalinya! Haha ..” temanku, Taehyung ternyata. Dia ikut duduk disampingku, menyandarkan kepalanya kedinding dan memandangku mengejek.
“Aku tidak tahu kenapa aku selalu terlambat, padahal aku selalu berusaha melakukan semuanya secepat mungkin agar tidak terlambat. Tapi hasilnya tetap sama ...”
“Babo!”
“Mwo? Katakan sekali lagi?” Aku langsung menjit kepalanya.
“Lihat kau ini, kasar sekali. Kalau seperti ini terus, pantas kau masih_”
“Masih apa?”
“Masih belum ada pria yang mau mendekatimu, yah selain aku”
“Mwo? Ah Taehyung, apa menurutmu aku ini urakan, pemalas dan jorok?”
“Apa aku harus jujur?”
“Aish kau ini, memangnya benar aku seperti itu?”
“Siapa yang mengatakan itu padamu?”
“Eomma ..”
“Mwo? Hahah ... Kalau Eomma mu yang mengatakan itu, berarti itu benar. Aku sependapat dengan Ahjumma!”
“Jinjjayo?”
“Kau ini hanya belum biasa menjaga dirimu sendiri, maksudku kau masih belum tahu bagaimana mempercantik dirimu agar orang lain menilaimu bagus. Itu saja, maybe? Haha ..”
“Ah dasar kau!” aku kembali menjitak kepalanya, kali ini lebih keras sampai membuatnya meringis kesakitan.
“Tambahan, kau juga kasar Nona Lee Hyein!”
Taehyung langsung berlari dari hadapanku dengan membuat gerakan perlindungan (maksud author dia menutupi kepalanya dengan tangan agar tidak terkena jitakan maut Hyein lagi).
--
        Aku meneguk minumanku,
“Taehyung,apa kau mau membantuku?”
“Mwoya?”
“Kau pura-pura menjadi pacarku dan datang pada Eomma?”
“Itu tidak akan berhasil!”
“Wae?”
“Ahjumma sudah tahu aku, dia tidak akan percaya aku pacarmu. Fikirkan hal lain untuk membuatnya membatalkan perjodohanmu itu..”
“Ah ne, aku lupa kalau Eomma sudah mengenalmu. Lalu aku harus bagaimana?”
“Kalau tidak tahu harus bagaimana, ya sudah terima saja perjodohan itu dan menikah lah dengan jodoh dari Ahjumma”
“Andwae!”
“Baiklah, aku coba fikirkan hal gila lain utuk mebantumu”
“Cepatlah, sebelum akhirnya Eomma menyuruhku mengikuti kencan buta yang memalukan!”
“Geurae, aku sedang mencoba!”
Taehyung dan aku mengernyitkan alis, berfikir sekeras mungkin cara apa yang dapat membebaskanku dari perjodohan gila ini.
        Author pov.
“Aigoo .. Apa yang kau lakukan?”
Eomma memukul kepala Hyein saat sedang mencoba menghapus make up dari wajahnya.
“Eomma, untuk apa aku berdandan seperti ini? Bedak ini membuat pipiku gatal, dan lihatlah lipstick ini ... buruk sekali”
“Diamlah! Eomma akan membuatmu cantik dengan make up ini, kau harus tampil bagus nanti”
“Memangnya nanti acara sepenting apa sampai aku harus berdandan dan mengenakkan dress sempit ini?”
“Nantilah kau tahu, sekarang coba kau diam dan biarkan Eomma meriasmu menjadi secantik putri”
“Putri? Putri angkara murka lebih pantas .. haha ..”
“Ish dasar kau ini!” Eomma kembali memukul kepala Hyein pelan sebelum akhirnya kembali melanjutkan merias wajahnya.
        Tara ...
Sekarang Hyein sudah selesai, Eomma berhasil membuat nya secantik putri. Menghilangkan wajah joroknya dan membuat Hyein tampak sangat cantik.
Dengan balutan mini dress pink lucu, membuat kulit putihnya terlihat bercahaya. Ditambah polesan make up diwajah imutnya, rambut panjangnya yang dibiarkan terurai menutupi sebagian punggung dan dada Hyein yang terbuka semakin membuat gadis urakan, pemalas, jorok, dan tomboy itu sangat cantik.
“Eomma, apa aku tidak akan menjadi bahan tertawaan orang lain dengan seperti ini?”
Setelah keluar dari mobil, Hyein terus saja menarik-narik dressnya.
“Tidak akan, aku cantik sekali. Kajja kita masuk, pasti mereka sudah lama menunggu”
“Mereka siapa?”
“Keluarga namja yang akan dijodohkan denganmu”
“Mwo? Andwae!”
Hyein langsung berlari menghindar dari Eomma, tapi percuma karena Eomma berhasil menangkap dan membawanya masuk kedalam restaurant ala Itali itu.
--
“Rapikan penampilan mu!”
Sekarang mereka ada dihadapan sebuah pintu dari sebuah ruangan.
“Eomma, haruskah ...”
“Berlakulah yang baik, ne?”
Eomma menarik tangan Hyein masuk kedalam ruangan itu setelah sebelumnya Eomma membuka pintu sebagai jalan masuk kedalam ruangan itu.
“Annyeonghaseyo, kalian sudah datang ..”
Seorang wanita seumuran Eomma menyapa mereka dari dalam ruangan dengan senyuman lebarnya.
“Ne, annyeonghaseyo. Apa kalian sudah lama menunggu?”
Eomma membalas senyuman wanita itu tak kalah lebarnya.
“Anio, kamu baru saja sampai. Ayo silahkan duduk ..”
“Hyein, ayo beri salam pada mereka” Eomma menarik pelan tangan Hyein yang bermuka masam itu.
“Annyeonghaseyo, Lee Hyein imnida. Mannaseo bangapseumida”
“Oh ini Hyein putrimu, dia cantik sekali. Sangat mirip denganmu waktu dulu ..”
“Ah bisa saja”
“Jimin-ah, ayo beri salam pada Ahjumma dan Hyein..”
Wanita itu menarik tangan pria muda dibelakangnya untuk ikut juga memberi salam pada Eomma dan Hyein.
“Annyeonghaseyo, Park Jimin imnida”
Ucap pria bernama Park Jimin anak wanita itu singkat, lalu duduk kembali tanpa senyum sama sekali.
“Dia tampan sekali ..” Eomma senyum menatapnya lalu duduk dihadapannya.
“Gamsahamnida Ahjumma”
“Ayo silahkan dicicipi makanan yang aku pesan, pasti kau menyukai makanan nya”
“Jinjjayo? Ah geurae, ayo makan Hyein”
“Ne Eomma”
Jawab Hyein masih dengan muka masam.
        Hyein pov.
Mwo? Apakah ini namja yang dijodohkan denganku itu? Kenapa jelek sekali? Aish pilihan Eomma benar-benar kuno, bagaimana bisa aku dijodohkan dengan namja yang tidak terlalu tinggi seperti ini. Dia bahkan tidak terlalu tampan dibandingkan dengan Taehyung.
Aigoo, pasti hidupku akan hancur setelah perjodohan ini. 
        Park Jimin pov.
Mwo? Apakah ini yeoja yang dijodohkan denganku itu? Kenapa jelek sekali? Aish pilihan Eomma benar-benar kuno, bagaimana bisa aku dijodohkan dengan yeoja yang pendek seperti ini. Dia bahkan tidak secantik Hayoung ku.
Apa hidupku akan hancur jika menikah dengannya?
“Jimin-ah ..”
Tiba-tiba panggilan Eomma menyadarkanku dari lamunan yeoja yang duduk dihadapanku itu sekarang.
“Ne Eomma?”
“Baimana?”
“Apa?”
“Aish ... Lihatlah dia, rupanya masih belum sadar akan kecantikkan Hyein-ah” Eomma dan Ahjumma itu mentertawakan ku rupanya.
“Ada apa Eomma?”
“Eomma tadi bertanya, bisa tidak kau antarkan Hyein-ah pulang?”
“Wae?”
“Ahjumma dan Eomma ada sedikit urusan dulu, jika Hyein-ah pulang sendiri tidak baik. Sudah terlalu malam, bisakah?”
“Tapi Eomma?”
“Jimin-ah, itung-itung kalian kenalan lebih dekat. Rumah kami tidak terlalu jauh dari sini kok”
“Eomma .. tapi aku ..”
“Sudahlah, kau pasti mau. Ayo Hyein-ah, ini sudah terlalu malam. Senang bertemu lagi denganmu, jaljayeo. Palli Jimin-ah!”
Eomma menarik tanganku untuk berdiri bersama Hyein, dan terpaksa aku harus pergi mengantar yeoja ini pulang dari pada kena amukan dari Eomma. (author sadis banget bahasanya ‘amukan’ kaya angin topan aja).
        Beberapa menit sudah aku menyetir dengan tempo cepat, tujuannya agar cepat sampai dirumah yeoja yang hanya diam ini dari tadi.
“Ehm .. Apa Ahjumma yang memaksamu ikut perjodohan ini?”
Aku membuka perkataan, berharap suasana diantara kami tidak terlalu hening dan menegangkan seperti ini.
“Ne, Eomma selalu memaksaku ikut perjodohan”
“Eomma dan Ahjumma adalah teman lama, jadi pantas kita yang menjadi imbasnya”
“Mwo?”
“Maksudku adalah .. Kita yang menjadi korban dengan dijodohkan akibat perteman mereka ..”
“Oh ne, mereka pasti senang menjaadikan kita korbannya”
“Apa berarti kau juga menolak perjodohana ini?”
“Ne, aku tidak mau menikah dengan dijodohkan”
“Kalau begitu kita sama, aku juga tidak mau menikah karena dijodohkan. Lagipula aku sudah punya yeojacingu ..”
“Mwo?”
Yeoja itu terlihat menajamkan matanya, seolah ingin memastikan yang barusaja aku ucapkan.
“Aku sudah punya yeojacingu, apa kau juga?”
“.. emh .. oh ne, aku juga sudah punya namjacingu! Kita sama-sama sudah punya pasangan ..”
“Lalu bagaimana kita sekarang?”
“Yang jelas kita harus menolak dan menghapuskan segala bentuk perjodohan ini, dan membawa aku dan kau kedepan pintu gerbang kemerdekaan untuk tidak dijodohkan!”
“hahaha ... Hyein-sshi kau ini lucu sekali haha ..”
“Ne?”
Yeoja itu terlihat bingung dengan tawaku, apa aku salah tertawa disaat seperti ini?
“Oh ehm .. Mian”
“Ne, ah berhenti didepan!”
“Apa itu rumahmu?”
“Ne, kau tidak usah masuk kedalam biar cepat. Sudah terlalu malam kan?”
“Geurae, aku juga ingin cepat pulang. Kalau begitu aku pergi”
“Ne, gamsahamnida”
Yeoja itu turun dan keluar dari mobilku, sedikit tersenyum dan melambaikan tangannya saat aku berputar arah sebelum kembali menacap gas pergi.
        Hyein pov.
Namja itu sudah punya yeojacingu? Kenapa aku kaget mendengarnya, seolah aku kecewa dengannya. Padahal apa urusanku dengannya ataupun yeojacingu nya, toh aku menolak perjodohan ini.
--
        Ponselku berdering, memecahkan suasana yang menyebalkan disini. Semoga aku ada masalah dan harus pergi dari tempat ini sekarang, aku mohon!
“Ini ponselmu, sepertinya ada telpon”
Park Jimin berjalan kearahku dan memberikan ponselku lalu kembali duduk.
“Yeobosseyo?” aku mengangkat telponnya.
“Hyein-ah, aku daapt ide untuk menggagalkan pernikahanmu!”
“Yak! Taehyung, kau terlambat !!”
“Tapi ini ide yang bagus ..”
“Apa kau tidak melihat undangan yang datang padamu hah? Kau terlambat, aku akan menikah besok. Bahkan sekarang aku sedang memakai gaun pengantinku!”
“Jinjjayo?”
“Sudahlah, jangan membuatku semakin kesal dengan semua ini!”
Lep .. aku mematikan telpon dan membanting ponselku kekursi dan hampir mengenai Jimin.
“Yak! Kau ini, bagaimana kalau kena kepalaku?”
“Mian!”
Aku tertawa melihat ekspresi kagetnya dan kembali melihat diriku dengan gaun pengantin ini dicermin, dengan beberapa orang yang masih memperbaiki bajunya. Istilahnya memberikan sentuhan terakhir untuk gaun ini.
Aku terus tertawa karena teringat ekspesi namja itu tadi, karena disini tidak ada Eomma ataupun Ahjumma. Makanya aku berani seperti ini.
“Sudah selesai Nona, bagaimana? Apa kau menyukainya?”
Tanya salah seorang yang memperbaiku gaunku itu sambil memperhatikanku dari cermin.
“Mau bagaimanapun tidak akan terlihat menyenangkan bagiku!”
“Mwo?” tanyanya heran karena perkataan yang kuucapkan ini, sebenarnya aku tidak sengaja mengucapnya.
“Mungkin maksud Nona ini adalah dia terlihat cantik dengan gaun ini”
Tiba-tiba Jimin berjalan dan berdiri disampingku, menatapku dari pantulan cermin. Membuatku balas menatapnya karena tidak percaya apa yang barusaja dia katakan.
“Mwo? Apa kau meledekku?” Aku mendorongnya pelan.
“Anio, kau benar cantik. Setidaknya itu yang harus dikatakan calon suami kepada calon istrinya disaat seperti ini kan?”
Jimin mengedipkan sebelah matanya, seolah mengisyaratkan ku tentang sesuatu. Dan Oh aku mengerti, sekarang aku berada ditempat umum yang bahaya jika orang-orang itu tahu aku tidak mau pernikahan ini terjadi.
“Ne, Eonnie gomawo. Sekarang aku boleh melepaskannya?”
“Mian, tapi Nona harus menunggu sampai Eomma mu kesini dan melihatnya”
“Mwo? Jinjjayo? Ah yang benar saja, kapan pula mereka datang kesini”
“Gwaencanha. Noona, gomawo”
“Ne, kalau begitu kami akan menunggu diluar” dan mereka pergi meninggalkan kami berdua disini sekarang.
“Kau tidak usah cepat-cepat melepas gaun ini, kau terlihab bagus. Sungguh!” Jimin tersenyum dan mengeluarkan tangan peace padaku.
“Diamlah!”
“Hanya saja ..”
“Mwo?”
“Apa kau selalu berpenampilan tidak rapi seperti ini? Rambutmu berantakan, kau mengikatnya asal seperti itu membuatmu terlihat seperti gembel yang memakai gaun pengantin .. haha ..”
“Mwo? Apa kau bilang hah! Dasar kau namja babo, michi namja!”
Aku tidak terima dengan perkataannya, langsung saja aku menjitak kepalanya. Memukul-mukulnya dan berjalan mengejarnya yang lari dariku,
Bugh ... Aku terjatuh. Aku lupa sedang memakai apa sekarang, gaun yang panjangnya menyapu lantai dan sangat berat.
Tapi, apa? Apa yang terjadi sekarang, aku ada dipangkuan Park Jimin namja babo itu?
“Harusnya kau tidak berlari dengan baju seperti ini ..”
Ucapnya lembut padaku, membuatku tidak bisa berkata apapun karena hampir tidak ada jarak antara tubuhku dengan tubuhnya. Wajah kami hanya beberapa senti jauhnya.
Mata kami saling bertatapan, dan entah kenapa posisi seperti ini membuatku tidak nyaman. Jantungku berdetak sangat kencang, dan mungkin bisa dia rasakan itu karena meningat kami yang menempel.
Dia menopangku dengan kedua tangannya, membuatku berada dibawahnya. Dan yang paling memalukan adalah belahan dadaku akan sangat terlihat dari posisinya.
Perlahan dia mendekatkan wajahnya padaku, membuat aroma parfumnya tercium olehku. Segar.
Tapi, apa? Aku tidak bisa melakukan apapun sekarang. Saat wajahnya semakin dekat dengan wajahku, dia memejamkan matanya. Apa yang harus kulakukan? Aku juga ikut memejamkan mataku, membiarkan bibirnya menempel dibibirku sekarang.
Aku rasakan dadaku merapat dengan dadanya, badanku ikut menopang sedikit berat badannya karena posisi ini.
Perlahan bibirnya melumat bibirku, menambah sensasi aneh yang dirasakan hatiku sekarang. Sentuhan lidahnya sangat lembut dibibirku, dia menghisap kecil bibir bawahku, membuatku akhirnya membuka sedikit bibirku, membiarkan lidahnya masuk kedalam mulutku, memainkan lidahku dengan lincahnya, membuat saliva kami sedikit bercampur.
Tanpa kusadari, tanganku yang tadinya ada dipinggang namja itu sekarang melingkar dilehernya. Apa ini.
Dia semakin memperdalam ciumannya, mencampur aduk kan rasa aneh dalam hatiku. Kenapa ini bisa terjadi?
“Ouh lihatlah mereka, ternyata kita tidak salah menikahkan mereka karena rupanya kedua anak kita ini sudah besar ..”
“Mesranya ..”
Mwo? Suara siapa itu? Aku dan Jimin sontak menlepaskan ciumannya dan berbalik kearah pintu, yang disana sudah berdiri Eomma dan Ahjumma dengan senyuman evilnya memandang kami.
“Eomma?” aku dan Jimin kali ini bersamaan bicara.
“Tidak apa-apa, kalian lanjutkanlah jika masih ing_”
“Ah anio, ani Eomma!” Jimin melepaskan tangannya dari pinggangku dan mengusap kasar wajahnya yang memerah.
“Palli Eomma, lihatlah aku dengan gaun ini. Rasanya aku ingin cepat-cepat melepaskannya dari badanku”
“Ah baiklah, bagaimana menurutmu?”
Eomma memandang Ahjumma, sepertinya berusaha menyamakan pikiran mereka tentangku dan gaun ini.
“Good!”
“Perfect!”
Mereka berdua mengacungkan jempol padaku.
“Ah syukurlah, akhirnya aku bisa keluar dari gaun sempit nan repot ini! Eonni, bisa tolong bantu aku?”
Aku tersenyum melambaikan tanganku pada beberapa Eonnie yang baru masuk, agar mereka segera melepaskan baju ini dariku.
        Author pov.
Sekarang Jimin baru saja sampai dirumah Hyein setelah mengantarnya dan Eomma. Awalnya Hyein tersenyum padanya, sampai saat Eomma sudah masuk kedalam rumah dan Jimin akan masuk kedalam mobilnya lagi, tiba-tiba Hyein memukul Jimin dengan tasnya keras.
“Awh appoyo! Mwoya?”
“Kau ini dasar namja yadong, nappeun namja, babo, michi namja!”
Hyein terus memukul Jimin berulang kali.
“Ada apa, kenapa kau menyiksaku?”
“Kau ... Dasar kau namja sialan!”
“Hyein-sshi, hentikan!”
Akhirnya Hyein berhenti memukulnya karena tertahan dengan tangan Jimin yang memegangnya kuat.
“Apa yang sudah kau lakukan tadi padaku?”
“Apa?”
“Kau pura-pura lupa atau apa? Tadi di butik itu, apa yang kau lakukan?”
“Saat kita berciuman?”
“Ish lepaskan aku, dasar nappen namja!” Hyein kembali memukulnya setelah tangannya lepas dari Jimin. Dengan sedikit tetesan air mata, Hyein terus berteriak nappeun namja dan memukul Jimin.
“Lalu apa masalahnya? Ah ... apa jangan-jangan itu ... Hyein-sshi, apa tadi itu adalah ciuman pertamamu?” dengan senyuman kecil, Jimin menatap Hyein yang mengusap air matanya.
Hyein hanya diam tidak menjawab, pertanda iya.
“Pantas saja tadi ... kau ..”
“Apa?”
“Kau sangat kaku tadi! Haha ... Mianhae Hyein-sshi, aku tidak bermaksud untuk mengambilnya darimu” Jimin bergegas masuk kedalam mobilnya lalu menancap gas pergi meninggalkan Hyein.
  

bersambung-

awalnya cifcif mau jadiin FF ini Oneshot, tapi kayanya akan kebanyakan. Lanjut ke chapter 2 aja yah bacanya.

haha!  

Now, I Love U chapter 2 - FF BTS Park Jimin





Chapter 2
--
        Suara lonceng berbunyi, menandakan upacara pernikahan pun dimulai.
 Para undangan sudah duduk rapi ditempatnya masing-masing, tidak terkecuali mempelai pria Jimin dengan balutan tuxedo hitamnya yang sudah berdiri diujung altar menunggu sang mempelai wanita yang masih berjalan menyapu altar dengan gaun pengantin putihnya yang indah.
Pengucapan janji setiapun dimulai.
... “Baiklah, mempelai pria boleh mencium mempelai wanitanya”
Kata MC pernikahan dengan lantang, membuat Hyein sedikit canggung.
“Baiklah istriku, mari kita tunjukkan kepada mereka kekalahan kita”
Bisik jimin sebelum menempelkan bibirnya pada bibir Hyein, dan Chu- Jimin mengecupnya cepat.
        Setelah acara didalam sana selesai, Hyein dan Jimin berjalan keluar menuju mobil pengantinnya yang sudah dihias bunga-bungan cantik. Sebelum masuk kedalam mobil, Hyein melemparkan seikat bungan yang dari tadi genggamnya pada orang-orang yang ramai ingin mendapatkan bunga itu dibelakangnya.
Setelah terdengan suara yang semain ramai, pertanda bunga itu sudah ada yang dapat, Hyein dan Jimin masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan keramaian upacara pernikahan mereka.
-----------------------------------------------
        Hyein pov.
Akhirnya aku kalah, aku menikah dengan namja bernama Park Jimin ini. Namja abs, aneh, dan yadong ini yang tidak terlalu tua denganku. Dia juga bahkan masih kuliah sepertiku.
Aku tidak suka padanya, michi namja yang sudah merebut ciuman pertamaku. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah kalah dari Eomma. Hancurlah hidupku mulai dari sekarang.
“Bagaimana rasanya?”
“Apa?”
“Menikah denganku ..”
“Rasanya sangat menyedihkan, sangat amat menyedihkan!”
“haha .. Jinjjayo?”
“Kenapa kau tertawa?” aku melihat Jimin yang tertawa karena ucapanku itu langsung meminggirkan mobil yang dikemudikannya, lalu menatapku.
“Kau lucu sekali .. haha ..”
“Berhenti mentertawaiku!”
“Kau yang membuatku tertawa”
“Aish diamlah, atau aku turun dari mobilmu?” aku sudah membuka pintu mobilnya.
“Silahkan saja, kalau kau tidak malu dengan pakaian seperti itu berjalan sendirian di jalanan. Pasti orang-orang akan lebih mentertawakanmu dari pada aku sekarang!”
“ah malangnya nasibku, bahkan aku tidak bisa kabur dari pernikahanku” akhirnya aku kembali menutup pintu mobil nya, dan menghapus semua niat kaburku.
“Mungkin kita sudah ditakdirkan untuk menik_”
“Sst .. jangan bilang kalau kau akhirya setuju dengan ini?”
“Mm mwo? Ah anio, aku masih sama ..”
“Baguslah, lalu sekarang kita akan kemana? Aku tersiksa sekali dengan baju ini, bisakah kita tidak diam dijalanan seperti ini?”
“Kau ingin kita kemana? Ke hotel yang sudah dipesan Eomma, atau ke apartement ku?”
“Kau punya apartement?”
“Ne, aku sudah tinggal diapartement sejak SMA”
“Geurae, kita kesana saja dari pada ke hotel itu”
“Baiklah, kita berangkat!” Jimin menekan gas mobilnya, melaju dengan sangat cepat. Syukurlah.
-------------------------------------------------------
        Author pov.
“Lumayan juga ..” Hyein melihat-lihat apartement Jimin yang cukup rapi untuk seorang namja.
“Mian berantakkan, aku sudah lama tidak pulang kesini karena mengurus perjodohan ini”
“Tidak apa-apa, menurutku kau lumayan rapi untuk seorang namja babo seperti mu”
“Ish mworageo?”
“Anio! Bisakah aku mandi disini, badanku lengket?”
“Ne, kamar madinya sebelah sana” Jimin menunjukkan kamar mandinya, lalu membuka tuxedo nya dan berbaring diranjang.
        Beberapa lama kemudian.
“Jimin-sshi!”
Teriakan Hyein yang keberapa  kalinya akhirnya berhasil membangunkan Jimin dari tidur lelapnya, membuatnya berjalan menghampiri pintu kamar mandi.
“Ada apa?”
“Aku lupa kalau aku tidak membawa baju ganti, bisakah kau meminjamkan baju untukku?”
“Tapi aku tidak punya baju wanita”
“Tidak apa, kaos dan celana mu saja. Palliwa!”
“Baiklah tunggu sebentar” Jimin membuka lemarinya, sedikit memilih bajunya. Dan setelah mendapat yang dirasa cocok, dia mengetuk pintu kamar mandi.
“Hyein-sshi ..”
“Oh ne, berikan padaku bajunya” Hyein membuka sedikit pintunya, mengeluarkan tangannya dan mengambil baju yang disodorkan Jimin.
“Mwo? ... Ini kau saja yang bicara pada Eomma” Jimin melemparkan ponselnya pada Hyein saat dia barusaja keluar dari kamar mandi.
“Yeobosseyo, Eomma ...” Hyein berjalan menjauh dari Jimin yang kembali menjatuhkan badannya diranjang, bicara dengan Jimin Eomma yang marah karena mereka tidak ada dihotel yang sudah dipesan.
“Ini ponselmu, dan bangunlah karena kita harus segera ke hotel. Eommonim marah, Eommaku juga marah. Kita akan dapat masalah besar”
“Kau yang mau ke apartemenku kan, jadi kau yang jelaskan pada mereka!”
“Mwo? Mana bisa begitu, bukankah kau yang menawariku kesini? Aku mana tahu kau punya apartement”
“Aku lelah, aku mengantuk!”
“Aku juga lelah, badanku rasanya pegal-pegal. Tapi ini harus kita selesaikan bersama!”
“Kau saja yang pergi!”
“Park Jimin, dasar kau egois. Michi namja!”
“Apa yang kau bilang?” Jimin menarik tangan Hyein yang berdiri disamping ranjangnya dan sontak membuatnya terjatuh, menindihnya sekarang.
Mereka hanya terdiam, saling bertatapan satu sama lain.
“Ehm ... emh baiklah ayo pergi!”
Sampai akhirnya mereka sadar, Hyein dan Jimin bangun dengan bahasa tubuh yang canggung mereka keluar dari apartement dan pergi.
----------------------------------------
“kenapa kalian tidak pergi ke hotel?”
Hyein Eomma dan Jimin Eomma sekarang sedang berdiri diahadapan Hyein dan Jimin.
“Hyein-sshi yang mau pergi ke apartement ku tadi”
“Ish, bukan begitu Eomma. Tadi dia sendiri yang menawariku mau kehotel atau ke apartement nya!”
“Tapi Eomma, aku tidak akan kesana kalau tidak dia yang minta”
“Eomma, aku mana mungkin tahu Jimin-sshi punya apartement kalau bukan dia sendiri yang memberitahuku”
“Eomma, dengarkan aku. Dia yang salah!”
“Anio Eomma, dia yang salah!”
Saat ini Hyein dan Jimin malah saling menyalahkan satu sama lain, membuat suasana di kamar hotel itu ramai dengan suara menggelegar mereka.
“Sudah sudah hentikan kalian berdua! Yang salah kalian berdua, jadi berhentilah saling menyalahkan dan membuat keributan”
“Eomma ..”
“Harusnya kau mengajak Hyein-ah ke hotel, bukan apartement mu. Dan kau juga Hyein-ah, baju apa yang kau pakai itu?”
“In ini ... ini baju Jimin-sshi”
“Kenapa kau memakai itu, harusnya kalian bersiap-siap untuk acara pesta pernikahan kalian nanti malam. Bukan malah keluyuran ..”
“Dia yang keluyuran ..”
“Diam Jimin-ah! Sudah, sekarang kalian istirahat dan siap-siap untuk nanti malam. Acaranya tinggal 4 jam lagi, dan awas kalau kalian kabur!”
“Ne, Eomma”
Hyein dan Jimin mengangguk kalah dari Eomma, sementara Eomma-eomma itu akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
“Hei kenapa kau menyalahkanku?”
“Kau juga menyalahkanku!”
“Kau yang salah tapi malah menyalahkanku!”
“Kau yang salah, bukan aku. Aku hanya korban”
“Korban apa? Ish bicaramu aneh, sama seperti orangnya yang gila!”
“Apa kau bilang hah?”
“Kau gila!”
“Kau yang gila!” ...
Dan mereka berdua kembali bertengkar didalam sana, membuat suasana selalu ramai dengan pertengkaran mereka.
--------------------------------------------------------
“Baiklah, untuk membuat pesta ini semakin panas dan meriah, bagaimana kalau pengantin baru kita juga harus berdansa?”
“Setuju!”
Permintaan MC pesta itu membuat pengantin baru Hyein dan Jimin saling bertatapan, mereka masih bertengkar dan sekarang harus berdansa?
Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena para undangan sudah berteriak setuju dan memaksa mereka untuk bergabung dengan yang lain dilantai dansa, dan akhirnya terpaksa mereka harus berdansa.
        Alunan musik jazz membuat para pasangan dansa lain semakin terbawa suasana, terkecuali pasangan pengantin baru kita yang selalu bertengkar ini.
“Aku bilang jangan datang ke pesta ini!”
“Kalau kita tidak datang pasti akan kena marah Eomma”
“Dan sekarang kita harus terus seperti ini, membosankan!”
“Badanku juga pegal”
“Tapi ..”
“Apa?” Hyein langsung melepaskan sebelah tangan Jimin dan menutup dadanya yang memang terbuka karena memakai baju dada terbuka.
“Aigoo .. Dasar kau ini!” Jimin memalingkan wajahnya.
“Wae?”
“Kau ini, punya dada kecil saja sombong. Bagaimana kau menyusui anak-anak kita kalau dadamu sekecil itu?”
(apa? Anak-anak kita?)
“Mwo? Ish kau, dasar namja yadong!” Hyein mendorong Jimin sampai terjatuh, membuat perhatian orang tertuju pada mereka.
“ .. haha .. Mian ..” Hyein langsung berlari meninggalkan aula hotel, membuat gelegar tawa keluar dari para tamu undangan yang hadir.
“Ommo! Kenapa aku harus menikah dengan pria yadong seperti dia!” Hyein mengumpat kesal, berjalan mengelilingi air mancur diluar hotel.
“Memangnya kau ingin suami bagaimana?”
“Taehyung?”
“Apa kau masih tetap ingin aku menjadi pacarmu?”
“Ish dasar kau babo, kemana saja kau? Setelah aku menikah saja kau muncul, kau tidak membantuku sama sekali. Malah membuatku kalah!”
“Aku memberimu ide waktu itu ..”
“Iya, tapi saat aku sudah memakai baju pengantin. Mana bisa aku kabur dari Eomma?”
“Kalau begitu, sudahlah. Nikmati saja pernikahanmu dan jad_”
“Hyein-sshi!” teriak Jimin mendekati mereka, tapi tunggu .. dia menggandeng seorang yeoja.
“Annyeong Hyein-sshi, rupanya kau disini. Ah kenalkan ini yeojacinguku yang pernah kuceritakan, chagi kenalkan ini yeobo ku”
“Annyeonghaseyo, Hayoung imnida”
Hyein hanya terdiam saat yeoja itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“oh ne .. a an annyeonghaseyo, Lee  Hyein imnida”
“Eonnie neomu yeppeo ..”
“Hah? Ah emh gamsahamnida ..”
“Haha .. chagi kau belum tahu kalau tidak berdandan, dia seperti gembel. Rambutnya selalu berantakan, benarkan yeobo?”
“Mwo?” [ih sialan sekali dia mempermalukan aku didepan wanita ini : umpat Hyein dalam hatinya]
“Dan ini, apa dia namjacingumu?” Jimin melihat kearah Taehyung.
“Oh ne, dia myhoney, namjacinguku. Ayo honey, kenalkan dirimu pada nampyeon baruku” Hyein langsung menggandeng Taehyung.
“Ish dasar kau ini [bisik Tehyung kesal pada Hyein]. annyeong, Tehyung imnida”
“Tahyung-sshi, pasti kau menderita sekali menjadi namjacingu yeoja urakan seperti dia ne?”
“Ne, memang sangat menyebalkan sekali jika berada diposisi ku .. haha”
“Honey!” bisik Hyein mengancam sambil membulatkan matanya menatap Taehyung.
“Haha .. kalian lucu sekali, tapi Mian yeobo. Aku harus mengantar Chagiya-ku pulang, sudah terlalu malam. Kalau begitu Taehyung-sshi, bersabarlah. Kami pergi dulu ...” Jimin dan yeojacingunya, Hayoung berjalan pergi meninggalkan mereka.
“Apa kau mengatakan pada mereka aku namjacingumu?”
“Maksudmu apa dengan meng-iyakan perkataan namja babo itu?”
“Memang benar yang diaa katakan, tapi untungnya aku masih beruntung bukan menjadi namjacingumu .. haha ..”
“Ish dasar, kalian sama saja! Kau pulanglah sana, myhoney” Hyein mengejek Taehyung, lalu kembali kedalam hotel dengan wajah masam.
--
“Bagaimana malam pertama kalian?” dengan senyuman Eomma menatap mereka berdua yang sedang menyantap sarapannya.
“Biasa saja!” jawab Hyein datar dan singkat.
“Apa kalian bekerja keras?”
“Tentu saja Eomma, kami sangat bekerja keras” jawab Jimin penuh ledekkan pada Hyein, karena sebenarnya mereka tidak tidur bersama. Karena bahakan Jimin sendiri baru pulang kehotel subuh tadi.
“Kalau begitu, Eomma akan cepat mendapat cucu”
“Jangan terlalu berharap Eomma, akmi tidak yakin!”
“Ne Eomma, kami mungkin tidak akan punya anak”
“Aigoo ... Apa yang kalian bicarakan ini, harusnya kalian optimis. Kalian masih muda, masih kuat, pasti akan cepat punya anak”
“Tapi Eomma, dada Hyein sang_ awh!”
Hyein menginjak kaki Jimin sangat keras, membuatnya sedikit mengeluarkan makanan yang memenuhi mulutnya.
“Ah dasar kalian ini, malu-malu tapi ...”
“Mwoya?”
“Jika kalian mau pindah, apartement mu sudah Eomma perbaiki. Tambahkan barang-barang dan Eomma buat senyaman mungkin untuk kalian berdua”
“Ne, gamsahamnida Eommonim” ...
---------------------------------------------------
Hyein pov.
Dan sejak saat itu aku dan namja babo Jimin tiggal berdua di apartement nya. Membuatku tersiksa.
Karena itu adalah apartement yang idealya hanya untuk satu orang, jadi tempat tidurnya hanya satu. Maka dari itu, setiap malam kami bergantian tidur diranjang. Jika malam ini aku tidur diranjang, maka Jimin di sofa dan sebaliknya untuk malam berikutnya.
Sampai tidak terasa kalau hari demi hari berganti, dan pernikahan kami sudah satu bulan sekarang. Tapi lamanya waktu berjalan tidak membuat perubahan diantara kami, pertengkaran masih terus terjadi.
Setiap hari Park Jimin tidak lelah selalu menyuruhku ini dan itu, menyuruhku memasak, mencuci pakaiannya, membereskan apartement nya dan apapun aku yang kerjakan.
Dan selama waktu itu berjalan, juga datang perasaan-perasaan aneh padaku. Itu mungkin karena aku sering melihat Jimin membawa Hayoung ke apartement.
Entah kenapa aku sering merasa kalau tidak mau melihatnya bersama wanita yang sok memanggilku eonnie itu, rasanya aku marah. Bahkan saat aku melihat mereka berciuman pun, aku memecahkan piring. Aneh, kenapa aku ini? Apa itu tandanya aku mulai suka pada si namja babo Park Jimin?
-------------------------------------------
        Jimin pov.
“Hyein-ah, buatkan aku makanan! Aku lapar ..”
“Buat saja sendiri, aku capek!”
jawabnya begitu dingin padaku, bahkan tanpa menoleh kearahku yang ada didepannya pun.
“Aku tidak bisa memasak, palliwa masakkan aku sesuatu”
“Andwaeyo, aku sedang sibuk!”
dia terus saja berada didepan laptopnya, tanpa menghiraukan aku.
“Sibuk apa? Pasti kau sedang membuat cerita aneh-aneh untuk blog mu lagi kan?”
“Ish dari mana kau tahu aku punya blog?”
“Kau tidak terlalu pintar untuk menyembunyikan identitasmu di internet”
“Dasar kau maniak!”
“Mwo? Apa yang kau katakan itu, aku tidak mengerti. Palli yeobo, buatkan aku makanan!”
“Ommo! Kau ini berisik sekali, baiklah tunggu disini”
“Geurae, yang enak yeobo!”
Akhirnya dia pergi kedapur, memasakkanku makanan. Walaupun awalnya aku ragu wanita seperti dia bisa memasak, tapi sekarang aku tahu kalau dia pintar memasak.
Bahkan tidak hanya itu, dia juga bisa diandalkan. Seperti mencuci pakaianku, menyetrika, mencuci piring, dan membereskan apartement ini walau kadang selalu berteriak membentakku tanpa alasan.
Tidak lama aku menunggu, dia datang membawakan makanan untukku. Sepiring bulgogi yummi.
Dan dia kembali duduk didepan laptopnya.
        Detik jam terus berputar, menjadi menit yang bergabung menjadi jam-jam waktu yang berlalu. Dan saat aku bangun, Hyein masih didepan laptopnya. Ah tidak, dia tertidur.
Aku mendekatinya, memandangnya. Aku selalu menyukainya jika sudah seperti ini, memakai kaca mata besarnya, menguncir asal rambutnya hanya agar tidak menghalangi matanya saat membuat cerita-cerita romantis aneh.
Dia selalu terlihat lucu jika seperti ini, aku menyukai istriku yang urakan seperti gembel ini. Tapi apa dia tahu aku menyukainya?
Rasanya sudah berulang kali aku melihatnya seperti ini, tertidur dimeja dengan laptop menyala. Aku ingin sekali menggendong dan memindahkannya keranjang, tapi aku terlalu takut pada diriku sendiri untuk melakukannya.
Tapi kalau aku tidak melakukannya, aku tidak akan pernah bisa melakukannya sampai kapanpun. Aku harus bisa mengalahkan rasa takut ku itu, geurae .. aku akan melakukannya.
Perlahan aku menggendongnya, kurebahkan dia diranjang. Dan Hore! Aku berhasil, ternyata tidak ada apapun yang terjadi. Tapi ...
Tanganku masih dibawah punggungnya, dia tidak mau merubah posisinya. Tanganku terjepit. Harus bagaimana aku?
Aku membuka kaca mata nya perlahan, mengangkat kepalanya agar tanganku yang terjepit bisa keluar. Tapi ...
Ommo! Dia malah menarikku, menarik dan memelukku erat. Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya bisa memandang wajahnya yang lucu, matanya begitu indah. Bibirnya yang sexy ...
Apa? Tunggu dulu, bibirnya? Apa aku sedang memperhatikan bibirnya sekarang? Tapi memang iya, bibirnya yang mungil sangat sexy.
Aku menempelkan bibirku pada bibirnya, hanya sekedar menempel saja. Aku bisa mencium aroma tubuhnya, wangi ternyata. Baru aku tahu kalau tubuh istriku ini ternyata hangat, aku rasanya tidak ingin melepaskan pelukan dan ciuman ini.
        Hyein pov.
Kenapa hangat sekali? Rasanya sedikit aneh, sempit sekali disini. Bau ini, bukankah ini bau parfum Park Jimin?
Aku membuka mataku, apa? Ternyata aku dalam pelukan Jimin, suamiku? Kenapa rasanya begitu hangat dan nyaman, aku baru menyadari kalau dia setampan itu.
Apa semalam aku tidur dengannya? Jika iya, maka ini adalah yang pertama kalainya semenjak pernikahan ku dengannya satubulan lalu. Aku sempat membayangkan hal ini, aku terbangun dipelukan Park Jimin. Tapi haruskah aku bangun dan berterian nappeun namja padanya sekarang? Meninggalkan pelukan senyaman ini rasanya sayang sekali, kapan lagi aku bisa seperti ini dengannya yang selalu membuatku marah.
Dan aku putuskan, aku akan diam sebentar lagi.
Aku mengusap kepalanya, menyisir rambutnya yang menghalangi mata. Membelainya lembut, ku usap wajahnya, hidungnya, matanya, dan bibirnya yang menurutku sexy.
Bibir nakal yang sudah mencuri ciuman pertama ku. Tapi rasanya aku ingin sekali bisa merasakannya lagi. apa? Bicara apa aku ini?
Hembusan nafasnya bisa aku rasakan membentur keningku, ah aku suka sekali seperti ini. Untuk yang pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini. Aku memeluknya lagi, memperdalam pelukannya.
Aku bisa merasakan perutnya yang kotak-kotak ini, kulitnya yang mulus. Karena sekarang ini dia hanya mengenakan kaos dalam tanpa lengan, seperti kebiasaannya. Menggunakan kaos tanpa lengan dan topi terbalik. Ah neomu kyeopta.
---------------------------------------------------
        Author pov.       
Ting tong .. suara bell pintu berbunyi membangunkan mereka berdua,
“Ommo!” Jimin membuka matanya.
“Yak! Park Jimin, apa yang kau lakukan padaku?” Hyein membuka matanya.
“Harusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang sudah kau lakukan padaku?”
“Aku tidak mungkin melakukan apapun padamu, pasti kau yang sudah melakukan sesuatu padaku. Mengaku saja!”
Mereka berdua kembali bertengkar, tapi anehnya mereka sama sekali tidak merubah posisi mereka saat ini. Masih berpelukan.
“Aku tidak melakukan apapun padamu”
“Aku juga tidak melakukan apa-apa”
Mereka bertatapan.
Jimin sedikit tersenyum, lalu mendekatkan wajah mereka. menempelkan bibir nya dengan bibir Hyein.
Jimin menhisap bibir atas Hyein nafsu, membiarkan Hyein yang melumat bibir bawahnya. Mereka saling memainkan lidah, bertukar saliva, dan menghisap bibir.
Ting tong .. ting tong .. bell yang terus berbunyi akhirnya membuat mereka sadar, dan dengan canggung menghentikan ciuman panas mereka.
“Mian ..” Jimin memijat tengkuknya.
“ah sebaiknya aku kekamar mandi ..” Hyein beranjak.
“Aku akan buka pintu!”
Dan akhirnya kabar baik bagi yang menekan bell, karena sekarang sudah ada jawaban. Jimin akan membuka pintunya.
“Hayoung-ah .. masuklah”
“Oppa, aku juga bersama satu teman”
“Oh nuguya?”
“aku, kau ingat?” tiba-tiba Taehyung muncul dibelakang Hayoung.
“Ish kau, mau apa kemari?”
“Ada sesuatu yang harus dibicarakan pada Hyein”
“Baiklah, ayo masuk” Jimin mempersilahkan mereka masuk.
“Hyein-ah, ada namjachingu mu diluar. Buatkan teh, juga untuk Hayoung” Jimin menatap Hyein yang sedang memasukkan baju kotornya kedalam mesin cucui.
“Mwo? Taehyung?”
“Ne, palli” Jimin kembali duduk bersama mereka.
“Ish untuk apa dia datang kemari, dan juga Hayoung menyebalkan itu kenapa selalu kesini. Baru tadi pagi Jimin baik padaku, pasti setelah ada dia akan jahat lagi padaku”
Hyein mengumpat sambil membuatkan teh untuk mereka.
“Ini silahkan diminum Hayoung-sshi, Taehyung-ah ..”
“Tunggu yeobo, apa kau tidak lag memanggilnya myhoney? Haha ..”
“Ah ne, aku lupa. Mianhae honey, kita jarang bertemu karena aku selalu dijadikan pembantu disini jadi aku hampir melupakanmu”
“Menjijikan ..”
“Mwo? Aku seperti mendengar kau bicara sesuatu Taehyung-sshi?”
“Anio, aku tidak bicara apapun”
“Ah rupanya kalian sangat merindukan satu sama lain, baiklah kalau begitu. Chagi kita bicara di balkon saja, sepertinya mereka tidak ingin diganggu”
“Geurae Oppa”
Jimin dan Hayoung pergi meninggalkan mereka, Hyein yang sedikit kesal melihat kemesraan mereka.
“Bagaimana kehidupanmu?”
“Sangat menyebalkan!”
“Sudah kukira ..”
“Ada apa kau kesini?”
“Sebenarnya aku dan_”
perkataan Taehyung terhenti karena Hyein yang beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan kearah balkon.
Hyein melihat mereka, Jimin dan Hayoung yang sedang berpelukan dan tertawa. Tapi Jimin melihatnya, dan sontak Hyein langsung berlari kembali pada Taehyung.
Saat Jimin kembali masuk kedalam, dia melihat Hyein yang sedang berciuman dengan Taehyung.
Dan itu membuat Jimin marah,
“Lee Hyein!” bentak Jimin menghentikan ciuman mereka. membuat suasana menjadi aneh sekarang.
“Aku pikir kami butuh waktu berdua, bisakah kalaian pergi sekarang?”
“Ne Oppa, kami akan pergi. Kajja Oppa ..” Hayoung menarik tangan Taehyung pergi meninggalkan mereka berdua.
“Ada apa? Kenapa menyuruh mereka keluar?”
“Apa yang kau lakukan dengannya tadi?”
“Tidak ada!”
“Lalu saat kalian berciuman pun bukan apapun hah?”
“Sejak kapan kau memperdulikan yang aku lakukan?”
“Lee Hyein!”
“Wae?”
“Aku ini suamimu”
“Aku juga istrimu, tapi apa aku pernah bertanya apa yang kau lakukan?”
“Mana bisa kau berciuman dengan orang lain didepan suami mu sendiri?”
“Jika kau bisa melakukannya, kenapa aku tidak bisa?”
“Aku? Kapan aku melakukan nya?”
“Kemarin bukankah kau dan Hayoung berciuman disofa?”
“Astaga, kami berciuman? Kau hanya melihat dari belakang, jadi salah faham”
“Maksudmu?”
“Aku hanya berbisik padanya, kami tidak ciuman. Mana bisa aku mencium gadis yang bukan siap-siapa ku”
“Apa yang kau katakan?”
“Hayoung itu bukan pacarku, Hyein-ah tolong dengarkan aku. Selama ini aku hanya diam, tapi sekarang aku sudah tidak bisa diam lagi. sebenarnya aku dan hayoung itu hanya teman, aku berbohong padamu saat kita belum menikah kalau dia pacarku karena aku tidak mau menikah denganmu”
“Jinjja?”
“Hyein-ah, aku sudah tahu dari Eomma mu. Kau sering menagis padanya karena aku kan? Karena aku selalu bersama Hayoung”
“Apa Eomma yang berkata itu padamu?”
“Ne, kemarin Eomma mengatakan semuanya padaku. Kau ini kenapa mengadu pada Eomma, membuatku menjadi kemarahan Eomma!”
“Yak! Park Jimin, aku memang bukan istri atas kemauan mu sendiri, tapi bisakah kau menghargai keberadaanku? Kau selalu saja membawa wanita itu kesini, membuatku seperti pembantu yang melayani kalian”
“Hyein-ah .. aku ..”
“Aku membencimu Park Jimin, aku sangat membencimu! Tapi aku tidak tahu kenapa saat aku melihatmu selalu bersamanya, aku merasa marah padamu. Aku ingin kau selalu bersama ku walaupun kita selalu bertegkar! Aku juga tahu kau pasti lebih membenciku, kau membenciku kan?” Hyein menghapus air matanya yang sudah tidak tertahan.
“Hyein-ah, dengarkan aku! Sebenarnya setelah kita menikah, aku merasa sesuatu terjadi pada perasaanku padamu. Aku selalu merasa gugup setiap bersamamu, jantungku berdetak kencang saat menatapmu, aku tidak tahu kenapa. Itu sebabnya aku selalu dingin padamu, menyuruhmu mengerjakan sesuatu agar kau tidak selalu ada dihadapanku. Karena menurutku mungkin dengan seperti itu, aku bisa menutupi perasaanku yang menyukaimu ..”
“Jinjayo? Tapi Hayoung?”
“Dia hanya teman dekatku, kami sudah berteman sejak kecil. Dan aku selalu menceritakan tentang perasaanku padanya, mengingat aku tidak mungkin bicara padamu yang selalu membentakku tanpa alasan”
“Jadi kau ..”
“Hyein-ah, aku tidak ingin kita selalu seperti ini. Bertengkar dan saling menyiksa diri dengan menyembunyikan perasaanku yang sekarang kau sudah tahu. Jadi .... maukah kau menjadi benar-benar istriku?”
“Mwo?”
“Kalau kau fikir aku tidak menyukaimu itu salah, aku sangat menyukai gadis urakan, jorok, dan pemalas sepertimu. Gadis gila yang tiap malam memakai kacamata besar, menyisir dan mengikat rambutnya asal lalu duduk didepan laptop membuat cerita roman yang aneh-aneh. Aku selalu menyukaimu yang tiap malam jatuh dari tempat tidur, aku menyukaimu Hyein-ah”
Jimin menarik tangan Hyein samapi kepelukannya, menatapnya mesra.
“Aku .. aku juga menyukaimu ..”
Lalu perlahan Jimin mencium Hyein, mungkin melanjutkan ciuman panas mereka yang tadi terhenti.
Tanpa melepaskan ciumannya, Jimin menggendong Hyein dan mebawanya ke ranjang.
“tunggu ..” Jimin tiba-tiba melepaskan pagutannya dan menatap Hyein.
“Wae?”
“Apa Taehyung benar-benar pacarmu?”
“Oh Anio, dia hanya teman kecilku yang aku sulap menjadi pacarku saat kau bilang sudah mempunyai pacar dulu”
“Jinjja? Lalu kenapa kalian tadi berciuman?”
“... Mwo? Ah emh itu tadi .. itu ..”
“Apa?”
“Aku hanya panas melihatmu berpelukan dengan Hayoung, jadi aku mencium paksa Taehyung yang bahkan tidak mau menjadi pacar bohonganku. Lalu kau pelukan dengan Hayoung tadi?”
“Itu karena aku senang bisa berciuman denganmu tadi pagi, dan Hayoung bilang dia sudah punya pacar”
“hahah ... lucu sekali ..”
“Kenapa tertawa? Aish kau ini,  tertawa atau menangis? Sampai seperti ini!” Jimin menghapus sisa air mata di pipi Hyein, lalu kembali menempelkan bibirnya.
“Tunggu, aku baru ingat” Jimin menghentikan aktivitas nya lagi tiba-tiba.
“Ada apa?”
“Kau belum menjawab pertanyaanku, aku tidak akan melakukan apapun pada wanita yang bukan siapa-siapa ku”
“Maksudmu?”
“Pertanyaanku adalah, mau kah kau menaji benar-benar istriku, Lee Hyein?”
“Mau tidak mau aku haru mau, kau sudah melihatku tanpa baju sekarang. Jadi aku harus menurutimu .. Park Jimin!”
“Yak! Panggil aku Oppa, ara?”
“Mwo, Park Jimin?”
“Panggil aku Oppa, atau kalau tidak aku akan ..”
“Akan apa?”
“Aku akan mengeluarkan sesuatu yang berbahaya!”
“Mwoya?”
“The little Jimin”
“hahahah ... Yak! Awas kalau_”

“Tapi Oppa, aku taku nanti_”
“Ssst ... percayakan semuanya padaku, aku akan membuatmu menikmatinya. Jangan takut, aku akan bermain selembut mungkin”
“Opmmm....”
“Hyein-ah, saranghae ...”

Dan malam itu berakhir dengan gerakan lembut yang di iringi nyanyian halus Hyein.
 



[Untuk beberapa alasan, dan demi kebaikan kita bersama, cerita ini saya ubah. Tepatnya, saya menghilangkan bagian yang terlalu vulgar dan menambah dosa] Terima kasih.

SUPER JUNIOR